Sumber Hukum dalam Agama Islam

Kerohanian

Di Posting Oleh Adam Gaza Andalusia kategori Kerohanian

Di Posting 1 week ago
Nama : Adam Gaza Andalusia
Nim : 20210801214
Prodi : Teknik Informatika

Assalamu'alaikum Wr. Wb
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas sesi 4 yang berjudul ” Sumber Hukum Dalam Agama Islam ”. 

Tugas sesi 4 ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Selain itu, tugas ini bertujuan menambah wawasan tentang agama dan agama islam bagi para pembaca dan juga bagi penulis. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pak Andi Hidayat Muhmin selaku dosen mata kuliah pendidikan agama islam.

Sumber Hukum Dalam Agama Islam.
P
engertian hukum Islam atau 
syariat islam adalah sistem kaidah-
kaidah yang didasarkan pada wahyu Allah SWT dan Sunnah Rasul 
mengenai tingkah laku mukallaf 
(orang yang sudah dapat dibebani 
kewajiban) yang diakui dan diyakini, 
yang mengikat bagi semua 
pemeluknya. Hukum Islam bukan hanya sebuah teori saja namun adalah sebuah aturan-aturan untuk diterapkan di dalam sendi kehidupan manusia. Karena banyak ditemui 
permasalahan-permasalahan, 
umumnya dalam bidang agama yang sering kali membuat pemikiran umat Muslim yang cenderung kepada perbedaan. Untuk itulah diperlukan sumber hukum Islam sebagai berikut, yaitu : 
1). Al-qur'an
Sumber hukum Islam yang pertama adalah Al-Quran, sebuah kitab suci umat Muslim yang diturunkan kepada nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Al-Quran memuat kandungan-kandungan yang berisi perintah, larangan, anjuran, kisah Islam, ketentuan, hikmah dan sebagainya. Al-Quran menjelaskan secara rinci bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya agar tercipta masyarakat yang ber -
akhlak mulia. Maka dari itulah, ayat-
ayat Al-Quran menjadi landasan 
utama untuk menetapkan suatu 
syariat. 
2). Hadist 
Pd Seluruh umat Islam telah sepakat dan berpendapat serta mengakui bahwa sabda, perbuatan dan persetujuam Rasulullah Muhammad SAW tersebut adalah sumber hukum Islam yang kedua sesudah Al Quran. Banyak ayat-ayat di dalam Al Quran yang memerintahkan untuk mentaati Rasulullah SAW seperti firman Allah SWT dalam Q.S Ali Imran ayat 32:


قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ ۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ - ٣٢

Katakanlah (Muhammad), "Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir."

Al Hadits sebagai sumber hukum yang kedua berfungsi sebagai penguat, sebagai pemberi keterangan, sebagai pentakhis keumuman, dan membuat hukum baru yang ketentuannya tidak ada di dalam Al Quran. Hukum-hukum yang ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW ada kalanya atas petunjuk (ilham) dari Allah SWT, dan adakalanya berasal dari ijtihad.
3). Ijma
Secara bahasa, ijma adalah mengumpulkan masalah yang setelah itu diberi hukum atas masalah tersebut lalu diyakini. Sedangkan menurut istilah, ijma adalah kesepakatan pendapat dari seluruh ahli ijtihad setelah Rasulullah Muhammad saw wafat.

Kedudukan ijma ini adalah sebagai sumber hukum islam yang ketiga setelah Alquran dan hadis. Pada awalnya, ijma ini dijalankan oleh para khilafah serta para petinggi negara. Dari musyawarah yang sudah mereka lakukan, lalu hasilnya akan dianggap sebagai perwakilan dari pendapat umat Muslim. Ijma sendiri dibagi menjadi 2 yaitu, ijma sharih dan ijma sukuti. Ijma sharih, adalah suatu kesepakatan dari para mujtahid yang dilakukan melalui pendapat atau pun dari perbuatan terhadap suatu hukum perkara tertentu. Untuk ijma sharih ini tergolong jarang terjadi. Sedangkan Ijma sukuti, adalah kesepakatan dari para ulama melalui seorang mujtahid yang sudah mengutarakan pendapatnya mengenai hukum suatu perkara. Setelah itu pendapat dari mujtahid tersebut pun menyebar dan banyak orang yang mengetahuinya. Dalam hal ini mujtahid lainnya tidak mengutarakan ketidaksetujuannya pada pendapat tersebut setelah melakukan riset atau penelitian tentang pendapat itu.
4). Qiyas
S
umber hukum islam yang terakhir adalah qiyas. Qiyas sendiri secara bahasa adalah tindakan mengukur sesuatu yang kemudian disamakan. Sedangkan secara istilah, qiyas adalah penetapan hukum pada suatu perbuatan yang saat itu belum ada ketentuannya dan kemudian didasarkan dengan yang sudah ada ketentuannya. Secara umum, qiyas ini terbagi menjadi tiga. Ada qiyas illat yang terbagi lagi menjadi jenis lainnya berupa qiyas jail dan qiyas khafi. Lalu yang kedua adalah qiyas dalalah, dan yang ketiga adalah qiyas shabah.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Covid-19 :

U
mat Islam wajib menyelenggarakan salat Jumat dan boleh menyelenggarakan aktivitas ibadah yang melibatkan orang banyak. Seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, salat tarawih dan di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim dengan tetap menjaga diri agar tidak terpapar Covid-19. Berikut fatma MUI tentang Ibadah di tengah pandemi Covid-19 :

1). Fatwa MUI Nomor 31 Tahun 2020, pada diktum A.3. menyatakan “Untuk mencegah penularan wabah Covid-19 kena kondisi tersebut sebagai hajat syar’iyyah”. Kebolehan merenggangkan saf, sebagaimana diatur dalam diktum fatwa tersebut merupakan rukhshah (dispensasi) karena ada hajah syar’iyyah. Hukum asal tata cara pelaksanaan shalat jamaah itu dilaksanakan dengan merapatkan shaf. Perkembangan kondisi terakhir, MUI menilai berdasarkan kebijakan Pemerintah, status hajah syariyyah yang menyebabkan adanya rukhshah sudah hilang.

Dengan demikian, pelaksanaan shalat jamaah dilaksanakan dengan kembali ke hukum asal (‘azimah), yaitu dengan merapatkan dan meluruskan saf (barisan). Meluruskan dan merapatkan saf (barisan) pada shalat berjamaah merupakan keutamaan dan kesempurnaan berjamaah.

2). Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 adalah fatwa tentang penyelenggaraan ibadah  dalam  situasi  terjadi  wabah  covid-19. Fatwa  tentang penyelenggaraanini   tertera   dalam point   memutuskan   nomor   kedua   yang membahas  tentang  ketentuan  hukum. 

Adapun bunyi dari Fatwa tersebut adalah : 

A). Orang yang terpapar virus corona wajib mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. 
B). Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan  diyakini  dapat  menjadi  media  penyebaran  COVID-19,  seperti jamaah shalat  lima  waktu/rawatib,  shalat  Tarawih  dan  Ied  di  masjid  atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.
C). Umat Islam diimbau untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Shubhanahu Wa Ta'ala dengan memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, memperbanyak shalawat, sedekah, serta senantiasa berdo'a kepada Allah agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan marabahaya (daf'u al-bala'), khususnya dari wabah Covid-19. Menyambut bulan Ramadhan, umat Islam diharapkan menyiapkan diri lahir dan batin dengan menjalankan berbagai syiar keagamaan. 
D). Dalam hal ia di wilayah yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan pada waktu yang tepat maka ia dapat meninggalkan shalat Jumat dan memanfaatkannya dengan shalat zuhur di tempat tinggal, serta meninggalkan shalat berjamaah, Tarawih, dan Idul Fitri di masjid atau tempat umum lainnya.
E). Pemerintah menjadikan fatwa ini  sebagai pedoman dalam menetapkan kebijakan  penanggulangan  COVID-19  terkait  dengan  masalah  keagamaan dan umat Islam wajib menaatinya.

Pendapat saya dengan fatwa MUI tersebut yaitu, Untuk memberikan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan rakyat Indonesia maka untuk sementara waktu seluruh kegiatan ibadah di masjid dibatasi. Agar bisa menghilangkan wabah COVID-19 ini dari Negara tercinta kita Negara Indonesia, dengan hilangnya wabah ini kita bisa melakukan semua kegiatan dengan aman dan tenang. 

Kesimpulan 

Kesimpulan dari hukum islam adalah bahwa semua hukum Islam itu berpusat kepada Al-qur'an . termasuk al-hadist dan hasil ijtihad juga tidak boleh bertentangan dengan Al-qur'an. Dan sebagai umat muslim kita diwajibkan untuk memperdalam ilmu agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Karna sumber ajaran agama Islam merupakan media penuntun agar kita dapat melaksanakan semua perintah Allah dan semua larangan-nya. 

Sekian kurang lebih nya mohon maaf Terima kasih. 
Wassalamu'alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh