TUGAS SESI 4 HUKUM DALAM ISLAM

Kerohanian

Di Posting Oleh Randi Praditiya kategori Kerohanian

Di Posting 1 month ago
Pengantar :

Sumber hukum dalam agama Islam yang paling utama dan pokok dalam menetapkan hukum dan memecah masalah dalam mencari suatu jawaban adalah al-Qur’an dan al-Hadis.Sebagai sumber paling utama dalam Islam, alQur`an merupakan sumber pokok dalam berbagai hukum Islam. Al-Qur’an sebagai sumber hukum isinya merupakan susunan hukum yang sudah lengkap. Selain itu juga al-Qur`an memberikan tuntunan bagi manusia mengenai apa-apa yang seharusnya ia perbuat dan ia tinggalkan dalam kehidupan kesehariannya. Sedangkan al-Hadis merupakan sumber hukum yang kedua setelah al-Qur’an.Disamping sebagai sumber ajaran Islam yang secara langsung terkait dengan keharusan mentaati Rasulullah Saw, juga karena fungsinya sebagai penjelas (bayan) bagi ungkapan-ungkapan al-Qur’an mujmal, mutlak, amm dan sebagainya.

Sumber - Sumber Hukum Islam :

Ada beberapa pendekatan yang dipakai dalam mencari sumber ajaran Islam dan sumber syariat Islam. Mereka yang menganggap bahwa agama Islam adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. berpendapat bahwa satu-satunya sumber ajaran Islam adalah Quran, yang merupakan kumpulan wahyu Allah. Posisi Nabi Muhammad adalah pihak yang melakukan visualisasi atau operasionalisasi ajaran, karena, Dialah pihak yang paling mengetahui ajaran Islam sebagaimana dikehendaki Allah. 

Kehadiran hukum islam ternyata memiliki maksud dan tujuan. Salah satunya untuk menyatukan perbedaan. Mengingat banyak interpretasi tentang ajaran islam. Interpretasi yang timbul inilah yang memicu terjadi perbedaan pendapat, konflik, pemahaman radikal dan sifat keegoisan masing-masing golongan. 

Maka dari itu, hukum islam hadir sebagai penengah. Kenapa penengah? Karena hukum islam disusun berdasarkan pada sumber hukum islam.

Hiraki sumber – sumber Hukum :

1. Al-Qur’an 

Sumber hukum islam yang paling dasar adalah Al Qur’an. Sebagai kitab suci umat muslim, tentu saja Al Qur’an sebagai tiang dan penegak. DImana Al Qur’an pesan langsung Dari Allah SWT yang diturunkan lewat Malaikat Jibril. Kemudian Jibril menyampaikan langsung kepada Nabi Muhammad. 

Muatan Al Qur’an berisi tentang anjuran, ketentuan, larangan, perintah, hikmah dan masih banyak lagi. Bahkan, di dalam Al Quran juga disampaikan bagaimana masyarakat yang berakhlak, dan bagaimana seharusnya manusia yang berakhlak. 

2. Hadits 

Hadits sabagai sumber islam yang tidak kalah penting. Kenapa hadis digunakan untuk hukum islam? Karena Hadis merupakan pesan, nasihat, perilaku atau perkatan Rasulullah SAW. segala sabda, perbuatan, persetujuan dan ketetapan dari Rasulullah SAW, akan dijadikan sebagai ketetapan hukum islam.

Hadits mengandung aturan-aturan yang terperinci dan segala aturan secara umum. Muatan hadits masih penjelasan dari Al-Qur’an.  Perluasan atau makna di dalam masyarakat umum, hadits yang mengalami perluasan makna lebih akrab disebut dengan sunnah.

3. Ijma’ 

Mungkin ada yang asing dengan sumber hukum islam yang ketiga, iaitu ijma’. Ijma’ dibentuk berdasarkan pada kesepakatan seluruh ulama mujtahid. Ulama yang di maksud di sini adalah ulama setelah sepeninggalan Rasulullah SAW. 

Kesepakatan dari para ulama, Ijma’ tetap dapat dipertanggungjawabkan di masa sahabat, tabiin dan tabi’ut tabiin. Kesepakatan para ulama ini dibuat karena penyebaran Islam sudah semakin meluas tersebar kesegala penjuru. 

Tersebarnya ajaran islam inilah pasti ada perbedaan antara penyebar satu dengan yang lainnya. nah, kehadiran ijma’ diharapkan menjadi pemersatu perbedaan yang ada. 

4. Qiyas 

Qiyas sepertinya tidak banyak orang yang tahu. Sekalipun ada yang tahu, masih ada perbedaan keyakinan, bahwa qiyas ini tidak termasuk dalam sumber hukum islam. Meskipun demikian, para ulama sudah sepakat Qiyas sebagai sumber hukum islam. 

Qiyas adalah sumber hukum yang menjadi penengah apabila ada suatu permasalahan. Apabila ditemukan permasalahan yang tidak ditemukan solusi di Al-Quran, Hadits, Ijma’ maka dapat ditemukan dalam qiyas. 

Qiyas adalah menjelaskan sesuatu yang tidak disebutkan dalam tiga hal tadi (Al-quran, hadits dan Ijma’) dengan cara membandingkan atau menganalogikan menggunakan nalar dan logika. 

Keempat sumber hukum islam di atas menunjukkan bahwa hukum islam tidak sekedar hukum biasa. Karena dasarnya mengacu pada 4 hal yang sangat fundamental.

Bahkan, ada beberapa pendapat lain, selain mengacu pada empat sumber hukum di atas, masih ada lagi sumber hukum islam, yaitu ada :

·         Istihsan,
·         Istishab,
·         Saddudz-dzari’ah atau tindakan preventif,
·         urf atau adat
·         dan Qaul sahabat Nabi SAW. 

Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19 :

Menurut pendapat saya pribadi, Di Indonesia, pandemi ini pertama kali terdeteksi pada pertengahan bulan Maret 2020.wabah covid ini dapat menular secara mudah melalui tetesan cairan yang berasal dari batuk dan bersin, kontak pribadi seperti berjabat tangan, menyentuh benda atau permukaan yang telah terkena virus yang kemudian dilanjutkan menyentuh mulut, hidung, maupun mata sebelum mencuci tangan. Untuk itu dalam rangka mencegah penyebarannya, salah-satu langkah agar dapat memutus rantai penularan virus tersebut adalah dengan menghindari kegiatan yang melibatkan banyak orang. Setiap orang harus menjauhkan dirinya dengan cara melakukan social distancing (menjaga jarak).

Salah-satu kegiatan penting yang dihentikan selama terjadinya penyebaran virus ini adalah kegiatan ibadah yang dilakukan secara berjamaah. Kegiatan sholat wajib dan sholat Jumat yang selalu dilakukan secara berjamaah di masjid dihentikan. Penghentian kegiatan ibadah secara berjama’ah dituangkan dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19.  Fatwa ini dikeluarkan sebagai langkah antisipasi dan wujud sikap proaktif para ulama yang terkumpul dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Beberapa di antaranya terkait orang yang telah terpapar virus corona wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Bagi orang tersebut, shalat jumat apabila laki-laki dapat digantikan dengan salat zuhur di kediamannya. Masyarakat positif corona juga diharamkan untuk melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadi penularan, seperti jamaah salat lima waktu/rawatib, tarawih, dan Ied di masjid atau menghadiri pengajian maupun tabligh akbar. Selain itu, MUI juga mengatur tentang pelaksanaan ibadah termasuk salat Jumat di wilayah penyebaran wabah virus corona.

Seluruh penemuan hukum Islam dilakukan dengan metode ijtihad seperti pada penemuan produk fiqih, fatwa, keputusan hakim (qadhi), dan peraturan perundangundangan (qanun). Fatwa dikeluarkan melalui ijtihad para ulama dalam memecahkan suatu permasalahan yang timbul di masyarakat atau yang dipertanyakan oleh masyarakat itu sendiri. Ijtihad berasal dari kata jahida yang berarti percobaan seseorang pada batas maksimum dan segala daya upaya untuk merealisasikan permasalahan tertentu yang diinginkannya, baik permasalahan yang sudah terjadi dan yang belum terjadi.

Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 adalah fatwa tentang penyelenggaraan ibadah  dalam  situasi  terjadi  wabah  covid-19. Fatwa  tentang penyelenggaraanini   tertera   dalam point   memutuskan   nomor   kedua   yang membahas  tentang  ketentuan  hukum.

Adapun  bunyi  dari  fatwa  tersebut adalah:

1.Setiap  orang  wajib  melakukan  ikhtiar  menjaga  kesehatan  dan  menjauhi setiap   hal   yang   dapat   menyebabkan   terpapar   penyakit,   karena   hal   itu merupakan  bagian  dari  menjaga  tujuan  pokok  beragama (al-Dharuriyat  al-Khams).

2.Orang yang telah terpapar virus Corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar  tidak  terjadi  penularan  kepada  orang  lain.  Baginya shalat  Jumat  dapat diganti  dengan  shalat  zuhur,  karena  shalat  jum’at  merupakan  ibadah  wajib yang  melibatkan  banyak  orang  sehingga  berpeluang  terjadinya  penularan virus secara massal. Baginya haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka    peluang    terjadinya    penularan,    seperti    jamaah    shalat    lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar. 

3.Orang  yang  sehat  dan  yang  belum  diketahui  atau  diyakini  tidak  terpapar COVID-19,  harus  memperhatikan  hal-hal  sebagai  berikut: 

a) Dalam  hal  ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan shalat jum’at   dan   menggantikannya   dengan   shalat   zuhur   di   tempat kediaman,  serta  meninggalkan  jamaah  shalat  lima  waktu/rawatib,  Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya;

b) Dalam hal ia berada di suatu kawasanyang  potensi  penularannya  rendah  berdasarkan  ketetapan pihak yang   berwenang   maka   ia   tetap   wajib   menjalankan   kewajiban   ibadah sebagaimana  biasa  dan  wajib  menjaga  diri  agar  tidak  terpapar  COVID-19, seperti  tidak  kontak  fisik  langsung  (bersalaman,  berpelukan,  cium  tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.

4.Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan   tersebut,   sampai   keadaan   menjadi   normal   kembali   dan   wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan  diyakini  dapat  menjadi  media  penyebaran  COVID-19,  seperti jamaah shalat  lima  waktu/rawatib,  shalat  Tarawih  dan  Ied  di  masjid  atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.

5.Dalam    kondisi    penyebaran    COVID-19    terkendali,    umat    Islam    wajib menyelenggarakan   shalat   Jumat   dan   boleh   menyelenggarakan   aktifitas ibadah    yang    melibatkan    orang    banyak,    seperti    jamaah    shalat    lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim dengan tetap menjaga diri agar tidak terpapar COVID-19.

6.Pemerintah  menjadikan  fatwa  ini  sebagai  pedoman  dalam  menetapkan kebijakan  penanggulangan  COVID-19  terkait  dengan  masalah  keagamaan dan umat Islam wajib menaatinya. 

7.Pengurusan  jenazah (tajhiz  al-janaiz)yang  terpapar  COVID-19,  terutama dalam  memandikan dan  mengafani  harus  dilakukan  sesuai  protokol  medis dan  dilakukan  oleh  pihak  yang  berwenang,  dengan  tetap  memperhatikan ketentuan  syariat.  Sedangkan  untuk  menshalatkan  dan  menguburkannya dilakukan  sebagaimana  biasa  dengan  tetap  menjaga  agar  tidak  terpapar COVID-19. 

8.Tindakan  yang  menimbulkan  kepanikan  dan/atau  menyebabkan  kerugianpublik,  seperti  memborong  dan/atau  menimbun  bahan  kebutuhan  pokok serta masker dan menyebarkan informasi hoax terkait COVID-19 hukumnya haram. 

Menurut Imam al-Amidi ijtihad adalah hasil dari curahan segala kemampuan untuk mencari hukum syara yang bersifat dhanni, sampai ia merasa dirinya tidak mampu mencari tamabahan kemampuannya itu. Menurut Syirazi ijtihad adalah kegiatan menghabiskan segenap kekuatan dan kemampuan serta mencurahkan segala daya upaya untuk memperoleh hukum syar’i atau hukumIslam.
 Imam Syafi’i menyatakan bahwa seseorang tidak boleh mengatakan tidak tahu terhadap suatu permasalahan apabila ia belum melakukan upaya sunguh-sungguh dalam mencari sumber hukum dalam permasalahan tersebut.10 Mayoritas ulama ushul fiqih berpendapat bahwa ijtihad merupakan curahan segenap kemampuan seorang ahli fiqih dalam menemukan pengertian tingkat dhanni terhadap hukum syariat.

Kesimpulan

Dalam sejarah perkembangan hukum Islam, istilah hukum Islam sering menimbulkan pengertian rancu, hingga kini hukum Islam terkadang dipahami dengan pengertian syariah dan terkadang dipahami dengan pengertian fiqh. Secara bahasa, kata syariah berarti “jalan ke sumber air” dan “tempat orang-orang minum”. Orang Arab menggunakan istilah ini khususnya dengan pengertian “jalan setapak menuju sumber air yang tetap dan diberi tanda yang jelas sehingga tampak oleh mata”. Dengan pengertian bahasa tersebut, syariah berarti suatu jalan yang harus dilalui. Adapun kata fiqh secara bahasa berarti “mengetahui, memahami sesuatu”. Dalam pengertian ini, fiqh adalah sinonim kata “paham”. Al-Quran menggunakan kata fiqh dalam pengertian memahami dalam arti yang umum. Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa pada masa Nabi, istilah fiqh tidak hanya berlaku untuk permasalahan hukum saja, tetapi meliputi pemahaman seluruh aspek ajaran Islam.