Hukum dalam Islam

Kerohanian

Di Posting Oleh Sadat Ardiansyah kategori Kerohanian

Di Posting 1 month ago
Pengantar : 
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Puji syukur dipersembahkan kepada Allah sebab hanya oleh kemurahanNya maka artikel ini dapat diselesaikan dengan baik. Meluasnya jangkauan wawasan Islam telah disampaikan oleh Rasulullah Saw. dengan sabdanya, "Iman itu tersusun atas 69 rangka, dan malu itu salah satu rangka iman",(HR. Bukhari). Lalu "Setinggitingginya mengakui keesaan Allah dan kerasulan Muhammad Saw., sedang yang serendah-rendahnya ialah menyingkirkan duri dan jalan yang dilalui” (HR Muslim). Rangka atau cabang-cabang tersebut dikelompokkan dalam tiga golongan besar, yaitu aqidah, syariah, dan akhlaq. Akidah (aqidah) membahas asas beragama yang berupa keimanan atau keyakinan tentang jagad raya dan kekuatankekuatan supranatural yang ada. Syariat (syariah) mencakup ibadah khusus (ibadah ritual) dan muamalah (mu’amalah) merupakan ibadah sosial yang mencakup bidang- bidang keluarga (al-ilah); kemasyarakatan (al-ijtima' yyah); politik (as-siaasah); ekonomi (al-iqtishadiyah); pendidikan (at-tarbiyah); kesenian, dan kejasmanian (kedokteran, olahraga, dan gizi). Akhlak meliputi tata krama dalam kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kehidupan berbangsa dan bernegara di samping dalam bidang hubungan antara makhluk dengan Allah SWT. Ajaran Islam mendasarkan pada enam pokok kepercayaan, yang dikenal dengan istilah enam rukun iman. Keimanan dalam Islam menekankan pada kepercayaan dan pengakuan atau beriman kepada semua yang bersifat gaib sekalipun, yang bukan sekadar mengakui keberadaannya, melainkan juga mengakui kebenarannya. Termasuk di dalamnya iman terhadap (1) Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah; (2) kitab-kitab suci yang merupakan pokok ajaran agamaagama terdahulu, yang terdiri dan Taurat, Zabur, Injil, dan Quran; (3) para malaikat, yaitu jenis makhluk rohani yang bertugas untuk melaksanakan seluruh karsa atau kemauan Allah dalam melaksanakan kekuasaan terhadap para hamba Allah lainnya; (4) Rasulullah, yaitu para nabi yang sekaligus bertugas untuk menyebar luaskan agama Allah; (5 akan datangnya hari kiamat, yaitu hari kebangkitan kembali seluruh umat manusia setelah masa kehancuran, untuk mempertanggung jawabkan seluruh amalan dalam hidup, dan terakhir beriman terhadap adanya (6) qadla dan qodar, yaitu ketentuan atau nasib baik atau buruk dari makhluk yang berada di tangan Allah. 


Sumber sumber hukum dalam islam :
Ada beberapa pendekatan yang dipakai dalam mencari sumber ajaran Islam atau sumber syariat Islam.- Mereka yang beranggapan bahwa agama Islam adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. berpendapat bahwa satu-satunya sumber ajaran Islam adalah Quran, yang merupakan kumpulan wahyu Allah. Posisi Nabi Muhammad adalah pihak yang melakukan visualisasi atau operasionalisasi ajaran, karena, Dialah pihak yang paling mengetahui ajaran Islam sebagaimana dikehendaki Allah. Posisi seperti itu dapat disaksikan secara langsung oleh para sahabat dalam sikap dan perilaku Nabi, sehingga Nabi sering dijuluki sebagai the living Quran atau Quran berjalan.  Setiap kurun waktu maupun setiap daerah kemungkinan besar memiliki kekhasan masalah, yang tidak pemah terjadi di masa Rasul. Untuk menghadapi masatah itu para ulama melakukan ijma dengan cara mencari analogi dengan yang terjadi di masa Rasul, yang dalam bahasa Arab disebut qiyas. Misalnya ketika para ulama di Indonesia menghadapi masalah Keluarga Berencana (KB). Masalahnya terletak pada bagaimana hukumnya menggunakan cara-cara kontrasepsi. Proses pencarian keputusan hukum lewat prosedur analogi atau qiyas itu kemudian dianggap sebagai sumber hukum pula. Dari berbagai pendekatan yang telah dikemukakan maka disimpulkan bahwa sumber-sumber hukum Islam ada 3 yaitu: 1. Al Qur’an, sebagai sumber yang pertama dan utama. 2. Hadits atau Sunnah Rasul 3. Ar Ro’yu (akal) dalam hal ini Ijtihad dengan berbagai metode istimbatnya.


Hirarki sumber sumber hukum :
AL-QURAN :
Al-Quran ialah wahyu Allah SWT. yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam, jika dibaca menjadi ibadat kepada Allah. Dengan keterangan tersebut di atas, maka firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa as. dan Isa as. serta Nabi-nabi yang lain tidak dinamakan AlQuran. Demikian juga firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. yang jika dibacanya bukan sebagai ibadat seperti hadist Qudsi tidak pula dinamakan AlQur-an.
SUNNAH
Sunnah menurut bahasa artinya perjalanan, pekerjaan atau cara. Sunnah menurut istilah syara’ ialah perkataan Nabi Muhammad SAW., perbuatannya dan keterangannya yaitu sesuatu yang dikatakan atau diperbuat oleh sahabat dan ditetapkan oleh Nabi, tidak ditegurnya sebagai bukti bahwa perbuatan itu tidak terlarang hukumnya.
IJMA
Ijma’ menurut bahasa, artinya : “sepakat setuju atau sependapat”, sedang menurut istilah ialah kebulatan pendapat semua ahli ijtihad umat Muhammad sesudah wafatnya beliau pada suatu masa tentang suatu perkara (hukum). Ijma’ itu menjadi hujah (pegangan) dengan sendirinya di tempat yang tidak didapati dalil (nash), yakni AlQuran dan Al-Hadist. Dan tidak menjadi ijma’ kecuali telah disepakati oleh segala Ulama Islam, dan selama tidak menyalahi nash yang qath’i (Kitabullah dan hadist mutawatir). Kebanyakan ulama berpendapat, bahwa nilai kehujahan ijma’ ialah dzanni, bukan qath’i. Oleh karena nilai ijma’ itu dzanni, maka ijma’ itu dapat dijadikan hujjah (pegangan) dalam urusan amal, bukan dalam urusan i’tiqad, sebab urusan i’tiqad itu mesti dengan dalil yang qath’i. Dasar hukum dijadikannya ijma sebagai sumber hukum Islam adalah QS An Nisa: 59.
QIYAS
Qiyas menurut bahasa, artinya “mengukur sesuatu dengan lainnya dan mempersamakannya”. Menurut istilah, “qiyas ialah menetapkan sesuatu perbuatan yang belum ada ketentuan hukumnya, berdasarkan sesuatu hukum yang sudah ditentukan oleh nash, disebabkan adanya persamaan di antara keduanya”. Qiyas menurut para Ulama adalah sumber hukum Islam yang keempat sesudah AlQuran, Hadist dan Ijma. Mereka berpendapat demikian dengan alasan karena i’tibar artinya “Qiyasusysyai-i bisysyai-i membanding sesuatu dengan sesuatu yang lain”.


Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19 :
Menurut pendapat saya,  Di Indonesia, pandemi ini pertama kali terdeteksi pada pertengahan Maret 2020. Ia dapat menular secara mudah melalui tetesan cairan yang berasal dari batuk dan bersin; kontak pribadi seperti melalui sentuhan dan berjabat tangan; menyentuh benda atau permukaan yang telah terkena virus yang kemudian dilanjutkan menyentuh mulut, hidung, maupun mata sebelum mencuci tangan. Untuk itu dalam rangka mencegah penyebarannya, salah-satu langkah agar dapat memutus rantai penularan virus tersebut adalah dengan menghindari kegiatan yang melibatkan banyak orang. Setiap orang harus menjauhkan dirinya dengan cara melakukan social distancing (menjaga jarak fisik) mereka dari orang-orang sekitarnya dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (selanjutnya di singkat PSBB) pada provinsi-provinsi tertentu yang terdampak covid-19 dengan jumlah besar. 
Salah-satu kegiatan penting yang dihentikan selama terjadinya penyebaran virus ini adalah kegiatan ibadah yang dilakukan secara berjamaah. Kegiatan sholat wajib dan sholat Jumat yang selalu dilakukan secara berjamaah di masjid dihentikan. Penghentian kegiatan ibadah secara berjama’ah dituangkan dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19.  Fatwa ini dikeluarkan sebagai langkah antisipasi dan wujud sikap proaktif para ulama yang terkumpul dalam Majelis Ulama Indonesia (selanjutnya disingkat MUI).
Sebagai alternatif, MUI menganjurkan masyarakat muslim untuk melakukan ibadah di rumah dan mengganti sholat Jumat dengan sholat Dzuhur selama pandemi ini berlangsung  Kendati demikian, meski munculnya fatwa adalah salah-satu upaya langkah efektif agar penyebaran virus tidak semakin kompleks, ada pula masyarakat yang menyayangkan fatwa ini lahir. Mereka menganggap bahwa beribadah secara berjamaah, khususnya beribadah pada sholat Jumat adalah sikap nyata wujud bakti kepada Allah SWT dan di tengah wabah seperti ini lebih baik mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Landasannya adalah hadist Rasulullah SAW terhadap larangan meninggalkan sholat Jumat, bunyinya: “Siapa yang meninggalkan tiga kali sholat Jumat karena meremehkan, niscaya Allah akan menutup hatinya.” (HR Abu Dawud, An-Nasai, dan Ahmad).
Adanya perbedaan respon di masyarakat menyikapi fatwa MUI tentang penyelenggaraan ibadah selama Covid-19 merupakan gambaran dari seberapa berpengaruh MUI pada tatanan masyarakat Indonesia. Apakah peran MUI dalam memberikan fatwa menjadi sedemikian penting pada situasi ini, sedangkan pemerintah di saat yang sama juga telah mengeluarkan imbauan- imbauan dan peraturan terkait Covid-19.
Seluruh penemuan hukum Islam dilakukan dengan metode ijtihad seperti pada penemuan produk fiqih, fatwa, keputusan hakim (qadhi), dan peraturan perundangundangan (qanun). Fatwa dikeluarkan melalui ijtihad para ulama dalam memecahkan suatu permasalahan yang timbul di masyarakat atau yang dipertanyakan oleh masyarakat itu sendiri. Ijtihad berasal dari kata jahida yang berarti percobaan seseorang pada batas maksimum dan segala daya upaya untuk merealisasikan permasalahan tertentu yang diinginkannya, baik permasalahan yang sudah terjadi dan yang belum terjadi.
Ijtihad menurut istilah berarti seseorang yang faqih (ahli fiqih) yang mencoba dengan segala daya upayanya untuk menetapkan hukum syariat dengan cara mencari dan menyimpulkan dalil-dalil syar’i. Seorang faqih yang mujtahid adalah seseorang yang dikaruniakan akal yang baik mampu menetapkan hukum syariat yang praktikal berdasarkan dalil-dalil terperinci.
Menurut Imam al-Amidi ijtihad adalah hasil dari curahan segala kemampuan untuk mencari hukum syara yang bersifat dhanni, sampai ia merasa dirinya tidak mampu mencari tamabahan kemampuannya itu. Menurut Syirazi ijtihad adalah kegiatan menghabiskan segenap kekuatan dan kemampuan serta mencurahkan segala daya upaya untuk memperoleh hukum syar’i atau hukum Islam.
Imam Syafi’i menyatakan bahwa seseorang tidak boleh mengatakan tidak tahu terhadap suatu permasalahan apabila ia belum melakukan upaya sunguh-sungguh dalam mencari sumber hukum dalam permasalahan tersebut.10 Mayoritas ulama ushul fiqih berpendapat bahwa ijtihad merupakan curahan segenap kemampuan seorang ahli fiqih dalam menemukan pengertian tingkat dhanni terhadap hukum syariat.
Ijtihad dilakukan sebagai salah-satu metode penggali sumber hukum yang berdasarkan al-Qur’an dan sunnah. Ia memiliki beberapa fungsi diantaranya: (a) Fungsi al-ruju’ (kembali), maksudnya mengembalikan ajaran-ajaran Islam kepada al-Qur’an dan Sunnah dari segala interpretasi yang kurang relevan; (b) Fungsi al-Ihya (kehidupan),yaitu ijitihad memiliki fungsi menghidupkan kembali bagian-bagian dari nilai Islam agar mampu menjawab sesuai dengan perkembangan zaman; dan (c) Fungsi al-Inabah (pembenahan), artinya ijtihad berfungsi memenuhi kebutuhan terhadap ajaran-ajaran Islam yang telah di-ijtihad-kan ulama terdahulu dan dimungkin tidak sesuai lagi bila melihat konteks zaman dan kondisi yang dihadapi sekarang.

Kesimpulan :
Dalam sejarah perkembangan hukum Islam, istilah hukum Islam sering menimbulkan pengertian rancu, hingga kini hukum Islam terkadang dipahami dengan pengertian syariah dan terkadang dipahami dengan pengertian fiqh. Secara bahasa, kata syariah berarti “jalan ke sumber air” dan “tempat orang-orang minum”. Orang Arab menggunakan istilah ini khususnya dengan pengertian “jalan setapak menuju sumber air yang tetap dan diberi tanda yang jelas sehingga tampak oleh mata”. Dengan pengertian bahasa tersebut, syariah berarti suatu jalan yang harus dilalui. Adapun kata fiqh secara bahasa berarti “mengetahui, memahami sesuatu”. Dalam pengertian ini, fiqh adalah sinonim kata “paham”. Al-Quran menggunakan kata fiqh dalam pengertian memahami dalam arti yang umum. Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa pada masa Nabi, istilah fiqh tidak hanya berlaku untuk permasalahan hukum saja, tetapi meliputi pemahaman seluruh aspek ajaran Islam. (Ahmad Hanafi, 1970: 11) 
Fatwa No. 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19 lahir merupakan bagian dari langkah proaktif dan antisipatif MUI dalam menanggapi persebaran virus yang telah sampai di Indonesia. Seperti fatwa pada umumnya, fatwa ini bukan berasal dari pertanyaan masyarakat karena dalam pembuatan fatwa sendiri terdapat 3 macam cara, yaitu: responsif, proaktif, dan antisipatif. Dalam penyelenggaraan ibadah berjamaah, MUI merekomendasikan untuk meniadakan sementara segala macam bentuk peribadatan di masjid, termasuk sholat Jumat. Hal ini dilakukan karena menurut MUI menjaga kesehatan dan menjauhi diri dari paparan penyakit merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (alDharurat al-Khams).