kapita selekta pendidikan agama islam

Pendidikan

Di Posting Oleh Sadat Ardiansyah kategori Pendidikan

Di Posting 3 weeks ago
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Puji dan syukur selalu kita kepada Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang selalu memberikan nikmat kasih dan sayang-Nya kepada kita. Memberikan hidayah bagi manusia, dan selalu menaungi manusia dengan kasih dan sayang-Nya, khususnya kepada penulis. Sehingga Penulis mampu menyelesaikan tugas ini. walaupun di dalamnya masih banyak kesalahan, kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan adalah hanyak milik Allah SWT. Tapi mudah-mudahan ini menjadi hal yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan, Amiin.

Isu radikalisme agama di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Munculnya pahampaham radikal yang mengatas namakan agama sudah lama terjadi di Indonesia. Mulai isu terorisme hingga mencuatnya ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria), imbasnya penutupan 22 situs-situs Islam oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi atas usulan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan dalih bermuatan negatif yang menyulut kemarahan banyak  pihak terutama umat Muslim. 

Sikap saya terhadap radikalisme, yaitu :
  1. Membentuk Team Cyber Anti-Radikalisme dan Anti-Narkoba
  2. Mereview Kegiatan/Program yang tidak prioritas dan menggantinya dengan Kegiatan Anti-Radikalisme.
  3. Mensosialisasikan ajaran Agama yang santun, saling menghargai, saling menghormati, damai, toleran, hidup rukun, menerima keberagaman dan kemajemukan, memiliki rasa cinta Tanah Air dan bela Negara serta ajaran agama yang Rahmatan Lil’alamin
  4. Memberdayakan peran Penyuluh Agama Fungsional/Penyuluh Non-PNS, Muballigh, Penceramah dan KUA Kecamatan dalam upaya pencegahan paham Radikalisme
  5. Memberdayakan Lembaga Pendidikan Agama Formal (RA/BA, MI, MTs dan MA) maupun Lembaga Pendidikan Agama Non-Formal (TKQ, TPQ, DTA dan Pondok Pesantren) dalam upaya Pencegahan Paham Radikalisme kepada Santri/Siswa
  6. Pembinaan Agama bagi siswa di sekolah-sekolah melalui Guru Pendidikan Agama untuk mencegah masuknya paham radikalisme.
  7. Menjalin hubungan koordinatif dengan Lembaga/Ormas Keagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu dalam upaya mencegah Paham Radikalisme
  8. Bermitra dengan Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan FKUB dalam Mewujudkan Tri Kerukunan Agama.
  9. Melakukan penanggulangan paham Radikalisme dengan edukasi masyarakat, penyuluhan, bimbingan masyarakat di sekolah, keluarga, pesantren, majelis taklim, serta sejumlah program seperti dialog, workshop, dan diklat.
  10. Melakukan pemulihan paham Radikalisme yang dilakukan dengan penyuluhan dan konseling, misalnya,  terhadap eks-NAPI teroris.

Di dalam Alquran  dan  Hadis Nabi  terdapat banyak kata jihad yang berarti berjuang dengan dakwah, firman Allah Q.s. al-Furqân [25]: 52 yang berbunyi: Maka janganlah kamu mengikuti orangorang kafir, dan berjihadlah kamu dengan Alquran,  dengan jihad yang besar. 
Jangan melampaui batas, firman Allah Q.s. al-Baqarah [2]: 190 yang berbunyi: Dan perangilah di jalan Allah orang orang yang memerangi kamu, dan jangan melampaui batas,  sesungguhnya Allah tidak  menyukai  orang orang yang melampaui batas. 
Dalam Hadis riwayat Ahmad, “Hindarilah perilaku berlebihan (ghuluw) dalam beragama, karena sesungguhnya hancurnya umat sebelum kalian disebabkan perilaku berlebihan  dalam beragama.” 
Dalam riwayat Muslim Rasulullah Saw. memperingatkan, “Pasti hancurlah orang-orang yang melampaui batas (al-mutanaththi‘ûn)!”. Dalil ini dengan jelas menyatakan larangan berbuat ghuluw, tatharruf, dan sejenisnya dalam beragama. 

Pada ayat ini pemahaman golongan radikal antipati terhadap pemimpin yang dianggap kafir karena tidak berhukum kepada Allah. Ayat ini tidak jarang dimaknai secara literal yang kemudian menjadikan mereka eksklusif, yang tidak jarang menuntut mereka untuk melakukan penampilan dan aksi simbolik yang bertujuan untuk membedakan antara Muslim dan non-Muslim. Para kelompok radikal militan membaca ayat-ayat Alquran dalam kesunyian, seakan-akan makna ayat tersebut begitu transparan sehingga ide moral dan konteks sejarah tidak relevan dalam penafsiran mereka. Padahal, pemahaman terhadap konteks diturunkannya ayat-ayat Alquran sangatlah penting, karena Alquran tidak turun dalam sebuah ruang hampa.
Pada dasarnya agama Islam sangat memperhatikan kemaslahatan individual maupun kolektif secara keseluruhan. Karenanya, tidak ada suatu kemaslahatan individu atau pun kolektif yang melampui kemaslahatan lainnya. Akan tetapi, jika ada benturan  antara dua kepentingan (kemaslahatan) itu, maka kepentingan kolektif akan diutamakan daripada kepentingan individu.41 Tentu masih banyak ayat dan juga hadis yang bisa dijadikan landasan gerakan radikal sebagai pembenaran atas tindakannya mengatasnamakan agama di antaranya Q.s. al-Tawbah [9]: 29, Q.s. al-Tawbah [9]: 5, Q.s. al-Mâ’idah [5]: 50, dan Q.s. al-An’âm [6]: 116.  Kalau dilihat sepintas, dalih-dalil tersebut di atas sepertinya benar, dan dalil-dalilnya pun kuat. Akan tetapi apabila diperhatikan dengan seksama maka akan terlihat bahwa mereka kurang teliti dalam memahami dalildalil tersebut, baik teks maupun konteksnya, sehingga melahirkan pandangan yang sempit, ekstrim dan radikal, dan pada gilirannya akan menimbulkan terorisme. 

Layaknya sebuah pohon, mengatasi terorisme dan radikalisme tidak bisa hanya dengan segera menebang dahan ataupun batang pohon tersebut karena meskipun dahan atau batang pohon tersebut ditebang, toh nantinya akan tetap tumbuh kembali. Untuk mengatasi terorisme dan radikalisme perlu dilakukan upaya untuk memberantasnya hingga ke akarnya. Sehingga penting untuk mengetahui apa yang menjadi akar dari radikalisme dan terorisme itu sendiri. Menurut Social Learning Theory dan juga teori identitas, seseorang dapat dengan mudah terpengaruh oleh paham radikal karena sifat agresi di dalam dirinya, sifat agresi yang berlebihan di dalam diri seseorang tumbuh karena dipengaruhi oleh lingkungan sekitar sementara menurut teori identitas seseorang yang sudah memiliki paham radikal ataupun seseorang dengan sifat agresi yang berlebihan dalam dirinya cenderung akan melakukan tindak kekerasan terbuka apabila ia merasakan adanya ancaman terhadap rasa identitas. Ancaman terhadap rasa identitas sendiri menurut Galtung termasuk ke dalam kekerasan kultural sehingga apabila ingin mengatasi terorisme dan radikalisme hingga ke akarnya maka perlulah mengatasi kekerasan kultural yang ada di dalam masyarakat. Salah satu cara untuk mengatasi kekerasan kultural adalah dengan mengajarkan dan membekali generasi muda dengan pendidikan perdamaian. Pendidikan perdamaian akan membekali generasi muda untuk memiliki sikap solidaritas dan juga toleransi serta bagaimana hidup berdampingan ditengah perbedaan tanpa ada rasa curiga maupun rasa benci hanya karena perbedaan identitas.