Perkembangan Islam di Indonesia

Kerohanian

Di Posting Oleh Sadat Ardiansyah kategori Kerohanian

Di Posting 3 weeks ago
Pengantar Umum :
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,  Islam di Indonesia merupakan mayoritas terbesar ummat Muslim di dunia. Ada sekitar 85,2% atau 199.959.285 jiwa dari total 234.693.997 jiwa penduduk Indonesia yang menganut agama Islam.1 Dari data tersebut, logis jika konstitusi Indonesia dari tahun 1945 sampai sekarang selalu memperhatikan nilai-nilai ke-Islaman.  Masuknya Islam ke Indonesia belum dapat diketahui dengan pasti waktu dan siapa pembawanya. Dalam bukunya L’Arabie et les Indes Neerlandaises, atau Revue de I’Histoire des Religious, jilid I, Snouck Hurgronje, seorang ahli agama Islam kebangsaan Belanda, mengatakan bahwa agama Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 dan dibawa oleh pedagang dari Gujarat, India. Hal ini berdasarkan bukti-bukti yang ada, yaitu Pertama, kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran agama Islam ke Nusantara. Kedua, hubungan dagang Indonesia-India telah  lama terjalin. Ketiga, inskripsi tertua tentang Islam terdapat di Sumatra memberikan gambaran hubungan antara Sumatra dengan Gujarat.  Islam di Indonesia tersebar melalui peranan para ulama, yang disebut dengan walisongo. Kesembilan wali ini menyebarkan agama Islam dengan menggunakan caranya masing-masing. Jawa Timur mendapat perhatian besar dari para wali dengan ditempatkannya 5 wali. Maulana Malik Ibrahim, sebagai wali perintis, mengambil wilayah dakwahnya di Gresik. Setelah Malik Ibrahim wafat, wilayah ini dikuasai oleh Sunan Giri. Sunan Ampel mengambil posisi dakwahnya di Surabaya. Sunan Bonang sedikit ke utara di Tuban. Sedangkan Sunan Drajat di Sedayu. Jawa Tengah kebagian 3 wali dalam penyebaran agama Islam. Sunan Kalijaga di Demak, Sunan Kudus di Kudus, dan Sunan Muria di daerah pegunungan Muria. Sedangkan Jawa Barat hanya didatangi oleh 1 wali, yaitu Sunan Gunung Jati yang memilih tempat dakwahnya di Cirebon.

Teori/pendapat kedatangan islam di Indonesia :
Menurut pendapat pribadi ialah Sejak awal abad masehi (yang masih pada fase peralihan dan zaman pra sejarah akhir di wilayah Nusantara) telah ada rute-rute  pelayaran danerdagangan antar pulau atau antara daerah. Barang perdagagan yang popular  ialah “Nekara Perunggu”. Nekara perunggu berasal dari daerah Dongson, kini termasuk dalam wilayah Negara Vietnam. Nekara sebagai barang perdaganan memiliki jangkauan yang cukup luas dan merata ke seluruh Nusantara, tidak saja di bagian barat tetapi sampai jauh menjangkau wilayah Maluku, dan NTT. Melalui hubungan dagang itulah, pedagang Persia,Arab, Gujarat yang telah memeluk agama Islam dapat memperkenalkan agama dan budaya Islam kepada penduduk Nusantara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masuknya Islam di Nusantara berlangsung secara damaimelalui hubungan perdagangan. Hanya saja persoalan “kapan” agama Islam mula pertama diperkenalkan belum dapat diketahui secara pasti. Hal ini sangat berkaitan antara lain soal keletakan setiap wilayah secara geografis. Misalnya, Selat Melaka,sudah dikenal sebagai jalur pelayaran dan perdagangan sejak berkembangnya Kerajaan Sriwijaya. Hal ini dapat dipastikan karena sejak abad ke-8 M, sudah banyak pedagang Muslim yang sudah berdatangan di Malaka dan Sriwijaya. Mereka menyebut Sriwijaya dengan sebutan Sribuza, Zabay, Zabag. Sesudah Srwiajaya lemah, banyak Bandar melepaskan diri. Tindakan ini mengisyaratkan bahwa kedudukan Bandar-bandar para pedagang Muslim itu sudah kuat, sehingga dalam Negara baru banyak pedagang Muslim yang mendapat tempat dan kedudukan. Mereka itu menjadi penguasa di Bandar itu. Salah satu contoh ialah Negara Samudera Pasai3 dari abad ke-13 M. Menurut Hikajat Radja-Radja Pasai da Sedjarah Melayu, antara lain menyebutkan bahwa Sultan Malik ash-Sholeh sebagai penguasa pertama Kerajaan Samudera Pasai4, ia wafat sebagaimana tertulis pada batu nisannya, Ramadhan 696 H/1297 M. Di Barus, telah ditemukan makam seorang wanita bernama Tuhar Amisuri, wafat pada 10 Shofar 602 H5, yan berarti 96 tahun lebih tua dari makam Malik ash- Sholeh. Bukti ini telah memperkuat pendapat bahwa di Barus sejak permulaan ke-13 M, sudah ada pemukiman masyarakat Muslim.

Dakwah Islam melalui Wali Songo :
Kehadiran makam Muslim di Trowulan sebagaimana tersebut dalam angka- angka tahun wafat di atas, telah menarik perhatian tentang  kemungkinan adanya masyarakat Muslim di dekat pusat kekuasaan Kerajaan Majapahit.Pusat-pusat perdagangan di pesisir Utara Jawa, yakni Gresik, Jepara, Cirebon, Banten, sejak akhir abad ke-15 M dan permulaan abad ke 16 M telah menunjukkan kegiatan keagamaan oleh para wali di Jawa, hingga kemudian lahirnya kerajaan Islam Demak. Sejak itu, erkembangan wilayah pengaruh Islam di Jawa telah dapat berperan secara politik.
Sesuai dengan ajaran agama Islam, setiap Muslim adalah “dai”. Para muballigh, guru agama Islam mempunyai tugas khusus menyiarkan agama  Islam . Keberadaan mereka secara khusus telah mempercepat rposes berkembangnya wilayah pengaruh Islam, antara lain melalui strategi mendirikan pesantren Islam. Di Pulau Jawa, penyiaran agama Islam dilakukan terutama oleh para wali yang dikenal dengan sebutan Walisongo. Strategi dakwah yang mereka terapkan telah berhasil meluaskan wilayah  pengaruh Islam ke Banjarmasin, Hitu, Ternate, Tidore, serta Lombok.
Sultan Samudra – atas bantuan Demak, sebagai raja pertama kerajaan Banjarmasin masuk Islam. Ia kemudian memakai gelar Maharaja Suryanullah. Ketika Suryanullah naik tahta, beberapa daerah sekitarnya sudah mengakui kekuasaannya, yaknidaerah Sambas, Batanglawai, sukadana, Kotawaringin, Sampit,, Mendawi, /sambangan. Adapun Lombok, meurut tradisi diislamkan oleh Sunan Prapen, dari giri, Gresik, Jawa Timur.
Kesultanan terbesar di Kepulauan Maluku abad ke 14-16 M adalah Kesultanan Ternate. Sejak abad ke-10 M terkenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah.Kapal-kapal dari Jawa, Malaka,dan Arab secara teratur berlayar ke sana. Pada awalnya, Kesultanan itu menganut animisme. Namun setelah Sultan Zainal Abidin (1486-1500), raja Ternate ke-19 kembali dari Giri, Gresik dan menyandang gelar Sultan, agama Islam menjadi agama resmi kerajaan.
Daerah yang agak terlambat menerima perkembangan Islam selain tempat-tempat yang disebutkan di atas adalah Sulawesi kecuali beberapa tempat seperti Buton dan Selayar, berdasarkan tradisi setempat telah menerima pengaruh Islam dari Ternate pada pertengan abad ke-16 M. Sejak Gowa-Tallo atau Makassar tampil sebagai pusat perdagagan laut, kerajaan ini menjalin hubungan yang baik dengan Ternate, suatu kerajaan pusat cengkeh, yang telah menerima Islam dari Gresik / Giri, di bawah kekuasaan Sultan Babullah, ternate mengadakan perjanjian persahabatan dengan Gowa Tallo. Ketika ini raja Ternate berusaha mengajak penguasa Gowa Tallo untuk iku menganut agama Islam, tetapi gagal.aru pada waktu Dato’ ri Bandang  datang ke Gowa Tallo, agama Islam masuk ke kerajaan ini. Sultan Alauddin (1591-1636) adalah sultan Gowa Tallo yang pertama menganut Islam pada tahun 1605. Dua tahun berikutnya, rakyat Gowa dan Tallo diislamka seperti terbukti dengan dilakukannya smbahyang Jum.at bersama di Tallo pada 19 Rajab 1068 H/ Nvember 1607 M.

Kesimpulan :
Penyebaran agama Islam dengan menggunakan sarana kesenian, disesuaikan denagan kondisi pada masanya. Saat itu kebudayaan pra Islam (pra Sejarah, klasik) masih sangat kuat dan menyebabkan para mubaligh memanfaatkan kesenian sebagai sarana syiar agama. Misalnya, di Jawa menggunakan wayang kulit, gamelan, dan sebagainya.
Melalui jalur-jalur di atas setidaknya proses perluasan wilayah Muslim di Nusantara mengalami perkembagan, hingga kemudian Islam sebagai agama sebagai mayoritas panutan bagi masyarakat di wilayah budaya Nusantara.
Pengaruh penyebaran agama Islam yang berpusat di Pasai meluas ke Aceh dipesisir Sumatera, Semenanjung Malaka, demikian pula penyebaran agama Islam yang berpusat di Demak meluas ke Banjarmasin, Lombok, dan sebagainya. Barangkali tidak cukup hanya sebatas penulusuran untuk mendapat kebenaran atau pembenaran, namun yang lebih penting barangkali “bagaimanakah hal-hal tersebut diatas dan terkhusus ikhwal penyebaran dan pengaruh Islam sejak abad ke 7 M hingga abad 17 M yang telah menjangkau di hampir bentangan gugusan kepulauan Nusantara.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.